Home Living

Skema Instalasi Listrik Rumah Beserta Komponenya

89
×

Skema Instalasi Listrik Rumah Beserta Komponenya

Sebarkan artikel ini
denah diagram singgle line

Pemasangan kabel listrik yang dipasang di dalam rumah hanya bertujuan untuk mendistribusikan listrik dari meteran ke soket dan fitting lampu yang didistribusikan ke seluruh rumah. Terlepas dari metode dan teknik pemasangannya, untaian kabel daya akan selalu dapat menjalankan fungsi distribusi daya. Selama koneksi antar kabel dilakukan dengan benar, tidak perlu khawatir dengan masalah yang mungkin timbul di kemudian hari. Instalasi listrik dalam ruangan ini harus diamankan dari arus pendek/korsleting dan beban yang dapat menyebabkan kebakaran di dalam rumah.

Untuk menghindari kejadian tersebut, instalasi listrik di rumah harus dipasang dengan benar dan aman. Bagi yang sudah terbiasa memasang instalasi listrik, tidaklah sulit.

Namun jika Anda belum mengetahui cara memasang listrik dengan aman dan benar, Anda bisa mengikuti petunjuk skema pemasangan listrik rumah di bawah ini, tapi sebelum itu kita bahas dulu mengenai komponen listrik rumah tangga.

skema instalasi listrik rumah

Komponen & Fungsi Listrik Rumah

Saklar

Saklar adalah perangkat yang menghubungkan atau memutus arus. Saat memilih saklar, pastikan menggunakan switch atau saklar yang memenuhi standar SNI. Pastinya, dengan menggunakan produk berstandar SNI, kualitas dan keamanannya lebih terjamin.

Fitting Lampu

Fungsinya untuk menempatkan bolam lampu. Terdapat jenis atau macam-macam fitting lampu, misalnya lampu gantung, lampu langit-langit, atau aksesori plug-in.

MCB atau Miniature Circuit Breaker

Fungsinya adalah sebagai pengaman instalasi listrik, singkatnya adalah untuk memutuskan arus listrik jika terjadi hubungan arus pendek atau konsleting.

Maka MCB ini akan secara otomatis memutus arus listrik di rumah, untuk mencegah kerusakan instalasi. Selain itu, MCB juga dapat mencegah terjadinya kebakaran dan ledakan akibat percikan dari konsleting listrik.

Arde atau Grounding Listrik

Arde adalah salah satu peralatan listrik yang ada di sebagian besar rumah. Alat ini biasanya diletakkan di dekat meteran listrik atau ditanam di tanah. Grounding atau pentanahan sendiri berarti jalur pemasangan kabel listrik menggunakan sistem pentanahan yang melindungi dari bahaya yang disebabkan oleh tegangan tinggi, korsleting atau sambaran petir.

Sekering atau Fuse

Sekering adalah perangkat listrik yang melindungi terhadap arus berlebih. Alat ini biasanya dipasang pada rangkaian listrik. Sekering akan beroperasi ketika arus melebihi beban maksimumnya. Meskipun sekering berukuran kecil, di semua sirkuit rumah tangga, terutama yang berarus besar, harus mempunyai sekering. Ini untuk melindungi listrik Anda dari lonjakan listrik yang besar.

Meteran Listrik

Meteran listrik adalah alat untuk mengukur jumlah pemakaian listrik oleh pelanggan setiap harinya. Dengan adanya meteran listrik yang disebut juga KwH meter, pengguna dapat mengetahui besaran pemakaian listrik setiap harinya.

Panduan atau Skema Instalasi Listrik Rumah

Gambar Instalasi listrik Rumah

skema instalasi listrik rumah
denah diagram singgle line

Dengan gambar Anda bisa mendapatkan detail yang sangat berguna seperti Luas rumah, Persyaratan komponen kelistrikan,Lokasi komponen listrik (titik),Biaya layanan listrik dapat dihitung juga. Gambar instalasi listrik biasanya dibuat oleh orang yang bisa menggambar misalnya dengan software autocad.

Persiapkan Alat Instalasi Listrik

Dengan peralatan yang tepat, Anda bisa Mempermudah pengerjaan pemasangan instalasi listrik dan yang pasti dapat mempersingkat waktu kerja juga. Salah satu Perlengkapan untuk memasang instalasi listrik adalah sebagai berikut:Tespen Tester digunakan untuk mengecek atau mengetahui apakah ada tegangan pada kabel atau bagian kelistrikan dengan pada bagian atas tespen muncul indikator lampu sebaga penanda ada arus listrik. Tang potong Tang adalah alat listrik yang digunakan untuk memotong kabel dan kabel, tetapi paling sering digunakan untuk memotong kabel listrik. Tang universal Tang alat listrik multifungsi dengan fungsi memotong, menjepit dan memilin kabel untuk menyambung kabel listrik.

Memahami dan Mengenal Komponen Listrik

Komponen instalasi listrik adalah bahan atau benda yang dipasang, baik sebagai komponen utama maupun komponen pelengkap, yang membentuk satu kesatuan dalam suatu instalasi listrik. Setiap komponen kelistrikan memiliki banyak fungsi yang berbeda. Komponen ini dapat dipasang di mana saja, salah satunya di dalam rumah. Oleh karena itu, perlu diketahui standar keamanan komponen instalasi yang akan digunakan agar proses instalasi berjalan dengan lancar.

Hitung Kebutuhan Daya Listrik Rumah

Mengutip dari halaman website Rajawali Putera Utama, Misalnya Anda sedang membangun rumah baru dan ingin memasang sistem kelistrikan PLN yang baru. Berapa energi listrik yang dibutuhkan?

Pertama, tuliskan peralatan listrik yang dibutuhkan dan energi listrik yang dikonsumsinya. Biasanya peralatan listrik yang dimaksud sudah menunjukkan konsumsi energi listrik yang dibutuhkan. Ada dua jenis label peralatan listrik, termasuk watt atau amp. Anda dapat menggunakan rumus watt listrik di atas (Watt = Volt x Ampere) untuk menghitung konversi Ampere ke Watt.

Contoh peralatan listrik yang diperlukan:

Oleh karena itu daya listrik yang dibutuhkan sekitar 2854 Watt atau 2854 VA. Jika diubah menjadi arus, tampilannya seperti ini (menggunakan rumus energi listrik di atas):

Arus = Watt / Volt Arus = 2854 Watt / 220 Volt Arus = 12,97 Amp

Umumnya, PLN hanya menawarkan beberapa pilihan catu daya standar, yaitu 220 VA (1 A), 450 VA (2 A), 900 VA (4 A), 1300 VA (6 A), 2200 VA (10 A), 3500VA ( 16A), 4400VA (20A), 5500VA (25A), dll. Jadi kirim permintaan daya listrik yang disarankan ke PLN 3500VA atau 16A.

Tentukan Luas Penampang Kabel Instalasi Listrik

Sebagai contoh, sistem tenaga tiga fasa diketahui memiliki kapasitas generator 12.500 watt dan tegangan nominal 380 volt. Penghantar akan mengalir dari genset ke mesin dengan jarak 500 meter antara kedua belah pihak melalui kabel tembaga. Faktor kehilangan tegangan 5%. Berapa penampang kabel yang diperlukan untuk kondisi pemasangan?

Berikut uraian jawabannya :

K = 3 = 1.732 –> 3 tahap L = 500 meter N=12500W V=380V Sefety Factor = 125%

Cos fi = 0,87 Y = 56 (tembaga), 32,7 (aluminium) µ = 5%

Perhitungan :

Rumus  A =  √3 LI Cos fi : Yµ

I= (12500: 1,732) x 380 x 0,87 = 21,83A

µ = 5% = (5:100) x 380 = 19V

A = 3 LI Cosfi = 1.732 x 500 x 21,83 x 0,87 = 15,46 mm2

Yμ 56 x 19

A = 15,46 x 125% = 19,32 mm2

Untuk menentukan penampang kabel, silakan lihat tabel kapasitas beban saat ini (KHA) yang diterbitkan oleh PUIL atau direkomendasikan untuk digunakan oleh produsen kabel. Pastikan pemilihan ukuran bagian kabel lebih besar dari nilai yang dihitung.

Jadi penampang kabel yang cocok untuk contoh di atas dengan nilai 19,32 adalah 25 mm2 (lihat tabel CRC kabel NYA)

Memasang dan Menyambung Kabel Listrik

Masalah penyambungan listrik tentunya harus dilakukan sesuai prosedur yang benar. Jika sambungan tidak baik, maka akan berdampak negatif pada instalasi listrik rumah, bahkan dapat berbahaya bagi lingkungan sekitar. Kenapa begitu? Di sini kami akan memberikan gambar mengenai beberapa cara penyambungan kabel listrik.

Test Instalasi dengan Multimeter

Tahapan terakhir adalah tes instalasi dengan alat multimeter, Berikut cara menggunakan multimeter untuk mengukur beberapa fungsi dasar multimeter seperti voltmeter (mengukur beda potensial), ammeter (mengukur arus listrik), ohmmeter (mengukur resistansi atau resistor)

  1. Cara mengukur tegangan DC (tegangan DC)
  2. Setel posisi sakelar ke DCV
  3. Pilih skala berdasarkan estimasi voltase yang akan diukur. Jika Anda ingin mengukur 6 volt, putar selektor ke 12 volt (hanya multimeter analog) ** Jika Anda tidak mengetahui tegangan tinggi yang diukur, skala tegangan yang lebih tinggi harus dipilih untuk menghindari kerusakan pada multimeter. 3. Hubungkan probe ke terminal voltase yang akan diukur. Probe merah ke anoda (+) dan probe hitam ke katoda (-). Berhati-hatilah untuk tidak membalik.
  4. Baca hasil pengukuran pada layar multimeter.
  5. Cara mengukur tegangan AC
  6. Setel posisi sakelar ke ACV
  7. Pilih skala sesuai dengan perkiraan voltase yang akan diukur. Jika Anda ingin mengukur 220 volt, putar selektor ke 300 volt (hanya multimeter analog) ** Jika Anda tidak mengetahui tegangan tinggi yang diukur, skala tegangan tertinggi harus dipilih untuk menghindari kerusakan pada multimeter.
  8. Hubungkan probe ke terminal voltase yang akan diukur. Untuk tegangan AC, tidak ada katoda (-) dan positif (+)
  9. Baca hasil pengukuran di layar multimeter. 3. Cara mengukur ampere (Amp)
  10. Setel posisi sakelar ke DCA
  11. Pilih skala sesuai perkiraan arus yang akan diukur. Jika arus yang diukur adalah 100mA, putar selektor ke 300mA (0,3A). Jika arus yang diukur melebihi kisaran yang dipilih, sekring multimeter akan putus. Kita perlu menggantinya sebelum kita bisa menggunakannya lagi.
  12. Putuskan sambungan kabel listrik yang terhubung ke beban,
  13. Kemudian hubungkan probe multimeter ke terminal jalur yang kita pilih. Probe merah ke tegangan output positif (+) dan probe hitam ke tegangan input (+) dari beban atau rangkaian yang akan kita ukur. Untuk lebih jelasnya silahkan lihat gambar berikut ini.
  14. Baca hasil pengukuran pada display multimeter
  15. Cara mengukur resistansi (Ohm) Pertama. Setel posisi sakelar ke Ohm (Ω)
  16. Pilih perkiraan skala ohm yang akan diukur. Biasanya dimulai dengan “X” yang merupakan singkatan dari “Kali”. (hanya untuk multimeter analog)
  17. Hubungkan probe ke komponen resistif, tidak ada polaritas sehingga dapat dibalik. 4. Baca hasil pengukuran di layar multimeter. (Khusus untuk multimeter analog, diperlukan perkalian dengan setting step 2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *